Kamis, 24 September 2026

KHUTBAH JUMAT: SYUKUR BATIN DAN SYUKUR LAHIR: MENGAKUI NIKMAT DAN MENGGUNAKANNYA UNTUK TAAT

 Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَحَثَّ عَلَى الرَّحْمَةِ وَالْإِتْقَانِ، وَجَعَلَ الْقِيَادَةَ أَمَانَةً وَمَسْؤُولِيَّةً، وَخَيْرَ النَّاسِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَقَادَ الْأُمَّةَ بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْحِكْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالدِّيَانَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَبِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ، وَالرِّفْقِ بِمَنْ وَلَّانَا اللَّهُ أَمْرَهُمْ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ    

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah, 

Ungkapan syukur, yang diikuti dengan ikhtiar peningkatan iman dan takwa, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita sebagai umat Islam. Segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita harus dipergunakan untuk beribadah dan kemaslahatan yang akan menambah keyakinan kepada Allah sekaligus menguatkan berkomitmen untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.   

Dalam mewujudkan syukur, biasanya kita semua sering mengucapkan, “Alhamdulillah.” Mendapat rezeki, kita mengucapkan Alhamdulillah. Mendapat hadiah, Alhamdulillah. Naik jabatan, Alhamdulillah. Sembuh dari sakit, Alhamdulillah. Anak mendapat prestasi, Alhamdulillah.    

Namun kita harus menyadari, apakah syukur hanya dilakukan setelah kita mendapatkan sesuatu? Apakah syukur hanya direspons dengan mengucapkan Alhamdulillah? Apakah syukur ketika keadaan menjadi lebih baik? Atau ketika masalah yang kita hadapi selesai? Di sinilah kita perlu menguatkan syukur batin yang bersifat pasif dengan bersyukur secara aktif dan diwujudkan dalam bentuk lahiriyah.   

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah, Allah SWT berfirman: 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧   

Artinya: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)   


Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Jilid IV, halaman 479 mengatakan ayat ini menjelaskan janji Allah bagi orang yang mau mensyukuri nikmat. Syukur berarti menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya atas nikmat tersebut, dan menggunakannya dalam kebaikan.  Sebaliknya, kufur nikmat adalah mengingkari atau tidak menghargai nikmat yang telah Allah berikan. 

Karena itu, ketika seorang hamba bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. Sebaliknya, jika nikmat tersebut diingkari, Allah dapat mencabutnya dan memberikan azab.   Ayat ini sangat populer di telinga kita. Ketika mendapatkan nikmat, kita sering mengatakan, “Bersyukurlah, nanti Allah tambah nikmat.”. 

Hal ini tentu benar namun jangan sampai kita memahami syukur hanya sebagai ucapan setelah mendapatkan materi.   Sebab jika ukuran syukur adalah materi, kita akan mudah terjebak pada satu persoalan yakni berapa banyak yang membuat kita bisa merasa cukup?. Orang yang mendapatkan satu juta rupiah mungkin merasa cukup. Namun ada orang lain yang mendapatkan sepuluh juta rupiah tapi masih merasa kurang.   

Ada yang bahagia tinggal di rumah sederhana. Namun ada yang memiliki rumah besar tetapi masih merasa tidak puas. Ada yang bersyukur punya sepeda motor. Namun ada yang sudah memiliki mobil tetapi masih mengeluh ingin mobil yang lebih mahal.   

Maka itu, Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,   Persoalan syukur bukan semata-mata berapa banyak nikmat yang kita miliki, tetapi seberapa mampu hati kita menyadari nikmat tersebut. Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadits Riwayat Imam Ahmad:

   قَالَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ : مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ   

Artinya: "Nabi SAW bersabda di atas mimbar: Barang siapa tidak bersyukur atas yang sedikit, maka ia tidak akan bersyukur atas yang banyak."   


Dari peringatan Nabi ini kita harus menyadari untuk tidak sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sementara lupa menghitung begitu banyak nikmat yang sudah Allah berikan. Dari perintah Nabi ini kita diingatkan untuk memaksimalkan syukur dengan menguatkan reaksi dan juga aksi.   

Dalam al-Risalah Al-Qusyairiyah Juz 1, hlm. 313 Ruwaim berkata;

    الشُّكْرُ اسْتِفْرَاغُ الطَّاقَةِ    

Artinya: “Syukur adalah aktivitas pendayagunaan seluruh kemampuan,”    


Sering kali kita melihat nikmat hanya sebagai sesuatu yang harus dinikmati. Padahal nikmat adalah modal untuk melakukan sesuatu yang lebih. Oleh karena itu penting memaksimalkan nikmat dengan bersyukur secara aktif dengan menanyakan pada diri sendiri “Apa yang sudah aku lakukan dengan nikmat yang Allah berikan kepadaku?”.    

Syukur batin mengatakan "Alhamdulillah, saya mendapat nikmat." Namun syukur lahir akan mengatakan "Alhamdulillah, Allah memberi saya nikmat. Lalu apa yang bisa saya lakukan dengan nikmat ini untuk mendekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama?"   


Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,   

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin Juz 4, halaman 81, mengatakan syukur tidak berhenti pada ucapan saja. Ada tiga unsur penting yang perlu kita ketahui agar kita bisa bersyukur dengan maksimal yaitu ilmu, hal, dan amal.   

Pertama adalah ilmu. Kita harus menyadari bahwa semua nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah.

   وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ ۝٥٣   

Artinya: "Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl: 53)   


Kedua adalah hal atau keadaan hati. Kita harus menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang menerima nikmat Allah. Dari kesadaran itu lahir rasa bahagia, cinta kepada Allah, rendah hati, dan tidak sombong. Sikap ini akan membuat kita tetap rendah hati ketika mendapatkan nikmat.   

Ketiga adalah amal yang merupakan puncak syukur. Nikmat yang disadari oleh akal dan dirasakan oleh hati  kemudian bisa diwujudkan melalui perbuatan. 

Pemahaman syukur sebagai tindakan aktif membuat kita menemukan satu pelajaran penting yakni syukur tidak hanya bisa dilakukan ketika bahagia. Dalam kesulitan pun kita masih bisa bersyukur.   

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah,   

Dari pemaparan ini, mari kita kuatkan lagi cara bersyukur kita kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, bukan hanya ketika mendapatkan nikmat, tetapi juga mampu mendayagunakan setiap nikmat untuk beribadah, berkarya, dan memberi manfaat. 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَاجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ   

Artinya; "Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur, dan jadikanlah seluruh nikmat-Mu sebagai pertolongan bagi kami untuk taat kepada-Mu." 

 رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ وَالِدَيْنَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ 

Artinya; "Ya Tuhan kami, ilhamkanlah kepada kami untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, serta agar kami mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai."

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ








Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَلَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. 

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً   اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   


Senin, 10 November 2025

Pengertian Namimah, Dosa Besar yang Menimbulkan Keburukan Bagi Umat Muslim

 

Namimah, Perbuatan Dosa Besar yang Menimbulkan Keburukan bagi Umat Muslim

Namimah adalah perilaku yang tidak disukai oleh Allah SWT. Pasalnya, namimah yang artinya adalah adu domba termasuk ke dalam dosa besar yang dapat mencelakakan pelakunya.

Rasulullah SAW dalam salah satu hadist menyebutkan:

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻻَ ﺃُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻌَﻀْﻪُ ﻫِﻰَ ﺍﻟﻨَّﻤِﻴﻤَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺎﻟَﺔُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ».

Artinya:

Dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Muhammad berkata, “Maukah kuberitahukan kepada kalian apa itu al’adhhu ? Itulah namimah, perbuatan menyebarkan berita untuk merusak hubungan di antara sesama manusia”

Banyak manusia yang tidak sadar melakukan perbuatan tersebut dan menganggap itu bukanlah sebuah dosa besar. Padahal, namimah dikatakan sebagai perbuatan yang menimbulkan rusaknya hubungan antarmanusia.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al Qalam ayat 10-12:

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻄِﻊْ ﻛُﻞَّ ﺣَﻠَّﺎﻑٍ ﻣَﻬِﻴﻦٍ ‏( 10 ‏) ﻫَﻤَّﺎﺯٍ ﻣَﺸَّﺎﺀٍ ﺑِﻨَﻤِﻴﻢٍ ‏( 11 ‏) ﻣَﻨَّﺎﻉٍ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣُﻌْﺘَﺪٍ ﺃَﺛِﻴﻢٍ ‏( 12 )

Artinya:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa” (QS Al Qalam:10-12).

Keburukan yang Ditimbulkan Namimah

Sebagai perbuatan dosa, namimah dapat menimbulkan berbagai macam keburukan bagi umat Muslim, antara lain:

1.    Perbuatan yang pelakunya dicela oleh Allah SWT

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ﴿١٠﴾ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Artinya:

Dan janganlah kamu taat kepada orang-orang yang suka bersumpah dan hina. Yang suka mencela dan berjalan kian kemari untuk berbuat namîmah.” (Al-Qalam/68: 10-11)

Perbesar

2.   Mendapatkan ancaman siksa kubur

Dalam hadist Abdullah bin ’Abbas dituliskan:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Artinya:

Nabi melewati dua kuburan, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya keduanya ini disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dalam perkara yang berat (untuk ditinggalkan). Yang pertama, dia dahulu tidak menutupi dari buang air kecil. Adapun yang lain, dia dahulu berjalan melakukan namîmah (adu domba)”. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam mengambil sebuah pelepah kurma yang basah, lalu membaginya menjadi dua, kemudian Beliau menancapkan satu pelepah pada setiap kubur itu. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa Anda melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Semoga Allâh meringankan siksa keduanya selama (pelepah kurma ini) belum kering”. (HR. Al-Bukhâri, no. 218; Muslim, no. 292)

3.    Mendapatkan ancaman tidak masuk surga

Dari Hammâm bin al-Hârits, dia berkata,

عَنْ هَمَّامِ بْنِ الْحَارِثِ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يَنْقُلُ الْحَدِيثَ إِلَى الْأَمِيرِ، فَكُنَّا جُلُوسًا فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ الْقَوْمُ هَذَا مِمَّنْ يَنْقُلُ الْحَدِيثَ إِلَى الْأَمِيرِ، قَالَ: فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا فَقَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ»

Artinya:

“Dahulu ada seorang laki-laki yang menyampaikan berita kepada amir (gubernur). Kami sedang duduk di dalam masjid, orang-orang mengatakan, “Orang ini biasa menyampaikan berita kepada amir”. Dia dating dan duduk dekat kami, maka Hudzaifah berkata, “Aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namîmah.” (HR. Muslim, no. 105)



Jumat, 08 September 2023

SYAHIDAH PERTAMA ISLAM, SUMAYYAH BINTI KHAYYATH

 

SYAHIDAH PERTAMA ISLAM, SUMAYYAH BINTI KHAYYATH

Sumayyah binti Khayyat -radhiallaahu 'anha

Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughiroh. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekkah sehingga tidak ada kabilah yang dapat membela, menolak dan mencegah kezaliman atas dirinya, karena dia hidup sebatang kara. Posisinya menjadi sulit dibawah naungan aturan yang berlaku pada masa Jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Huzaifah. Dia akhirnya dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah, tokoh yang kita bicarakan ini. Beliau hidup bersamanya dalam suasana yang tenteram. Tidak berselang lama dari pernikahan tersebut, merekapun dikaruniai dua orang anak, yaitu ‘Ammar dan Ubaidillah.

Tatkala ‘Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah shallallâhu 'alaihi wa sallam kepada beliau. Maka berfikirlah ‘Ammar bin Yasir sebagaimana yang difikirkan oleh penduduk Mekkah, sehingga kesungguhan beliau di dalam berfikir dan lurusnya fitrah beliau, menggiringnya untuk memeluk Dienul Islam.

‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya.

Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh berkah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulai sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena ‘Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga orang-orang kafir menyikapinya dengan menentang dan memusuhi mereka.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka. Mereka memaksa dengan cara menyeret mereka ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan diatas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir, ‘Ammar dan Bilal.

Suatu ketika Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah tersiksa secara kejam, maka beliau menengadahkan tangannya ke langit dan berseru :

“Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, maka beliau bertambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya. Dia mengulang-ulang dengan berani: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar”.

Sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang sepele dalam rangka memperjuangkan aqidahnya. Di hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para Thaghut yang zhalim, yang mana mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya. Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam.

Tatkala para Thaghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah maka musuh Allah, Abu jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkannya sangkur yang berada dalam genggamannya ke tubuhnya. Maka terbanglah nyawa beliau dari raganya yang beriman dan bersih. Dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh yang baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, yang mana beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki, dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabb-nya. “Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan”.

 

(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)

Rabu, 11 Maret 2020

Madrasah Aliyah Al-Azhar Bi'ibadillah Sukses Laksanakan UAMBN-BK Tahun 2020

 Madrasah Aliyah Al-Azhar Bi'ibadillah Tahalak Ujung Gading
Sukses Laksanakan UAMBN-BK Tahun 2020



Kepala Madrasah Al-Azhar Bi'ibadillah Tahalak Ujunggading, Ustadzah Ansoriah Lubis, S.Pd.I memantau langsung pelaksanaan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBN-BK) di Madrasah Aliyah Al-Azhar Bi'ibadillah Tahalak Ujunggading yang diikuti sebanyak 34 Santri dan 38 Santriyah (72 Orang).

Untuk tahun ini santri/santriyah MA Al-Azhar Bi'ibadillah Tahalak Ujunggading mengikuti UAMBN-BK. UAMBN-BK ini berlangsung selama 3 hari mulai dari tanggal 09 s/d 11 Maret 2020, pada hari pertama tanggal 09 UAMBN BK dengan mata pelajaran Al-Qur’an Hadist, tanggal 10 Fiqih dan hari terakhir 11 Maret mata pelajaran SKI dan UAMBN-BK ini dibuat dua sesi per harinya yang berlangsung selama 1 jam 30 menit.

Dalam pantauannya ke ruang ujian, Kepala Madrasah Al-Azhar Bi'ibadillah, Ummi Ansoriah Lubis, S.Pd.I, mengatakan semoga kegiatan UAMBN-BK ini berjalan dengan lancar dan sukses pelaksanaannya, dan kepada santri-santriyah yang mengikuti UAMBN-BK agar bersungguh-sungguh, lebih cermat dan teliti pada saat mengerjakan soal supaya mendapat nilai yang sangat memuaskan, Amin.

Ustadzah Kepala Madrasah juga mengatakan UAMBN-BK dilaksanakan serentak diseluruh Madrasah Aliyah yang ada di Indonesia, dan pihak Yayasan akan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan juga sarana prasarana yang lebih refresentatif, tutup Ustadzah Ansoriah Lubis, S.Pd.I

Jumat, 06 Maret 2020

JENIS-JENIS AKHLAK, SISTEM PENILAIANNYA SERTA BAIK BURUKNYA MENURUT AJARAN ISLAM

JENIS-JENIS AKHLAK, SISTEM PENILAIANNYA
SERTA BAIK BURUKNYA MENURUT AJARAN ISLAM


A. Pendahuluan
            Kata akhlak adalah bentuk jamak dari kata “Alkhulukul” dan kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-khalku” yang bermakna “kejadian”. Kedua kata tersebut berasal dari kata kerja “khalaka” yang mempunyai arti “menjadikan”.
            Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al-Qur’an yang dalam penjabarannya yang dilakukan hadits Muhammad saw. Masalah akhlak dalam ajaran Islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar sebagaimana telah diuarikan pada bagian terdahulu.
            Menurut ajaran Islam penentu baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-qur’an dan al-hadits. Jika kita perhatikan al-Qur’an maupun hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada yang baik, dan adapula istilah yang mengacu kepada yang baik, misalnya: al-Hasanah, Thayyibah, Khairah, karimah, Mahmudah, Azizah dan Al-Birra.
            Itulah pokok bahasan dalam makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, kepada Bapak Dosen Pembimbing dan saudara/i kami harapkan kritik dan saran baik dari segi penulisan, isis makalah, untuk acuan bagi penulis lebih meningkatkan kedepannya. Kami ucapkan terimakasih.

B. Pembahasan
            Kata akhlak adalah bentuk jamak dari kata “Alkhuku” dan kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-khalku” yang bermakna “kejadian”. Kedua kata tersebut berasal dari kata kerja “khalaka” yang mempunyai arti “menjadikan”. Dari kata “khalaka” inilah timbul bermacam-macam kata seperti: Al-khalku mempunyai makna “kejadian”, Al-khalik bermakna “Tuhan pencipta alam”, Makhluk mempunyai arti “segala sesuatu yang diciptakan Tuhan”.
            Dalam kitab “Al-Mursyid Al-Amin ila Maudhah Al-Mu’minin” terdapat kalimat yang menjelaskan perbedaan antara kata Al-Khalku dengan kata al-Khuluku, bahwa al-khuluku mengandung arti kejadian yang bersifat lahiriah, seperti wajah seorang yang bagus atau jelek, sedang kata “al-khuluku” atau jamak “akhlak” mengandung arti budi pekerti atau pribadi yang bersifat rohaniah, seperti sifat-sifat terpuji atau tercela.

C. Defenisi Akhlak
            Imam Ghazali dalam bukunya “Ilya Ulumuddin” menyatakan sebagai berikut: Akhlak ialah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan.
            Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al-Akhlak” mengatakan bahwa akhlak ialah “Ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia, yang baik atau yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau yang batil.
            Ulama-ulama ahli yang lain memberikan defenisi sebagai berikut: “Akhlak ilah gambaran jiwa yang tersembunyi yang timbul pada manusia ketika menjalankan perbuatan-perbuatan yang tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksa”. Yang dimaksud dengan sifat dan amal perbuatan lahir disini ialah sifat dan amal yang dijelmakan oleh anggota lahir manusia, misalnya: kelakuan-kelakuan oleh mulut, tangan, badan dan lain sebagainya.[1]
D. Beberapa Istilah   
            Dalam pembahasan akhlak ada beberapa istilah lain yang sering digunakan untuk mengatakan akhlak tersebut. Istilah-istilah itu adalah:
1. Etika
            Kata etika berasal dari bahasa yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam ensiklopedi pendidikan diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk. Kecuali etika mempelajari nilai-nilai itu sendiri.
            Pengertian etika dilihat dari sudut terminologi: Etika ialah studi tentang tingkahlaku manusia, tidak hanya menentukan kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan seluruh tingkah laku manusia.

2. Moral
            Kata moral berasalah dari bahasa latin mores yaitu jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moraladalah baik buruk perbuatan dan kelakuan.
            Di dalam Dictionari of education dijelaskan bahwa moral ialah suatu istilah a term used to delimit those characters, traits, intentions, judgments or acts which can appropriately be designated as rigt, wrong, good, bad (suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, buruk).

3. Kesusilaan
            Kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Susila berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu su dan la. Su berarti baik, bagus, dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup norma. Di dalam kamus bahasa Indonesia dikatakan, susila sama dengan kesopanan.[2]

E. Ukuran Baik dan Buruk
1. Adat Kebiasaan
            Tiap suku atau bangsa mempunyai adat-kebiasaan tertentu yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dipandang baik bagi orang yang mengikutinya dan dipandang buruk bagi siapa yang melanggarnya. Oleh karena itu, orang berusah mendidik anak-anaknya agar dapat mengikuti adat-istiadat yang ada dan jangan sampai melanggar.

2. Kebahagiaan (hedonism)
            Banyak para filosofi berpendapat bahwa tujuan hidup dan kehidupan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Karena itu, perbuatan manusia dapat dikatakan baik bila ia mendatangkan kebahagiaan / kenikmatan / kelezatan.
            Dalam hal ini terdaapt dua paham kebahagiaan, yaitu:
  1. Kebahagiaan diri (egoistic hedonim)
  2. Kebahagiaan Bersama (Universalitic hedom)
Setelah ditinjau secara seksama tentang tolok ukur perbuatan manusia dengan kebahagiaan, ada beberapa kelemahan yang terdapat di dalamnya:
  1. Nilai yang diberikan bersifat lokal dan temporal
  2. Nilai yang diberikan bersifat subjektif
  3. Paham ini hanya memandang hasil dari sudut paham

3. Intuisi (intuition)
            Intuisi merupakan kekuatan batin yang dapat mengenal sesuatu yang baik atau buruk dengan sekilas pandang tanpa melihat buah dan akibatnya.
            Paham ini berpendapat baha tiap manusia itu mempunyai kekuatan batin sebagai suatu instrumen yang dapat membedakan baik dan buruk suatu perbuatan yang sekilas dipandang. Kekuatan ini dapat berbeda antara seorang dengan lainnya karena perbedaan masa, akan tetapi tetap berakar dalam tubuh individu.

4. Evolusi (evolusion)
            Evolusi adalah suatu paham yang berkembang dan apa adanya menuju kepada kesempurnaan. Pendapat seperti ini bukan hanya berlaku pada benda-benda yang nampak seperti binatang, manusia dan tumbuhan, tetapi juga berlaku pada benda yang tak dapat dilihat atau diraba oleh indera, seperti akhlak dan moral, cita-cita dalam hidup ini menurut paham ini adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan.
            Dalam sejarah paham evolusi, darwin mengatakan bahwa perkembangan alam ini didasari oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
  1. Ketentuan alam (selection of nature)
  2. Perjuangan hidup (struggler for live)
  3. Kekal bagi yang pantas (survival for the fittest). [3]   

F. Jenis-jenis Akhlak
            Ada dua jenis Akhlak dalam Islam, yaitu:
  1. Akhlaqul karimah (terpuji) adalah akhlak yang baik dan benar menurut syari’at Islam.
Jenis-jenis akhlakul Karimah itu adalah:
    1. Al-amanah (sifat jujur dan dapat dipercaya)
    2. Al-alifah (sifat yang disenangi)
    3. Al-afwu (sifat pemaat)
    4. Anie Satun (sifat manis muka) apabila kita difitnah maka harus disambut dengan manis muka dan senyum.
    5. Al-khairu (kebaikan atau berbuat baik)
    6. Al-khusyu’ (tekun bekerja sambil kmenundukkan diri berzikir kepada-Nya)
  1. Akhlaqul Madzmumah (akhlak tercela) adalah akhlak yang tidak baik dan buruk menurut syari’at Islam.
Adapun jenis-jenis akhlakul tercela (akhlakul madzmumah) adalah:
    1. Ananiyah (sifat egoistis)
    2. Al-Baghyu (suka obral diri pada lawan jenis yang tidak berhak (melacur) karena itu merupakan perbuatan yang dikutuk Allah.
    3. Al-Bukhlu (sifat bakhil, kikir, kedekut (terlalu cinta harta), karena sifat itu adalah sifat yang sangat tercela dan paling dibenci Allah.
    4. Al-kadzab (pendusta/pembohong)
    5. Al-khamru (gemar minum-minuman yang mengandung alkohol (al-khamar)
    6. Al-khuyanah (sifat penghianat)
    7. Azh-Zulmun (sifat aniaya) dalam arti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, mengurangi hak yang seharusnya diberikan kepada yang berhak
    8. Al-Jubnu (sifat pengecut).[4]

G. Sumber-sumber Ajaran Akhlak
            Sumber ajaran akhlak ialah al-Qur’an dan Hadits. Tingkah laku nabi Muhammad s.a.w. merupakan contoh suri tauladan bagi umat manhusia semua, ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an: [5]


Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang mengahrap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
            Tntang akhlak pribadi Rasulullah  dijelaskan pula oleh Aisyah r.a., diriwayatkan oleh imam muslim, dari Aisyah r.a. berkata: “Sesungguhnya akhlak rasulullah itu adalah Al_Qur’an (H.R. Muslim)”. Hadits Rasulullah meliputi perkataan dan tingkahlaku beliau, merupakan sumber akhlak kedua setelah Al-Qur’an.
            Segala ucapan dan perilaku beliau, senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah. Allah SWT berfirman:


Artinya: Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
            Jika telah jelas bahwa Al-Qur’an dan hadits rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asa bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlakul karimah dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dan sunnah rasul adalah ajaran yang paling mulia dari segala ajaran manapun hasil renungan dan ciptaan manusia. Sehingga telah menjadi keyakinan (aqidah) Islam bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk dan pengarahan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

H. Baik dan buruk Menurut Ajaran Islam
            Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al-Qur’an yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadits Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam ajaran Islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu.
            Menurut ajaran Islam penentu baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jika kita perhatikan Al-Qur’an maupun hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik, dan adapula istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya: Al-Hasanah, Thayyibah, Khairah, Karimah, Mahmudah, Azizah dan Birra.
            Al-Hasanah sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Raqb al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. AlHasanah selanjutnya dapat dibagi 3 bagian, pertama hasanah dari segi akal, kedua dari segi hawa nafsu/keinginan, dan yang ketiga hasanah dari segi panca indera. Lawan dari hasanah adalah al-sayyiah, yang termasuk al-hasanah misalnya keuntungan, kelapangan rezki dan kemenangan. Sedangkan yang termasuk al-sayyiah misalnya kesempitan, kelaparan dan keterbelakangan.[6] Pemakaian kata Al-Hasanah yang demikian itu misalnya kita jumpai pada ayat yang berbunyi:


Artinya: Serulah (Manusia) kepada Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

            Dan pada ayat Q.S. AlQashash yang berbunyi:


Artinya: Barang siapa yang datang (membawa) kebaikan. Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, Maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan [7]
I. Kesimpulan
            Kata akhlak adalah bentuk jamak dari kata “Alkhuluku” dan kata yang terakhir ini mengandung segi-segi yang sesuai dengan kata “al-khalku” yang mempunyai arti “menjadikan”.
            Imam Ghazali dalam bukunya “Ihya Ulumuddin” menyatakan sebagai berikut: Akhlak ialah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan.
            Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al-Akhlak” mengatakan bahwa akhlak ialah “Ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk, yang benar atau yang salah, yang hak atau yang batil.
            Dalam pembahasan akhlak ada beberapa istilah lain yang sering digunakan untuk mengatakan akhlak tersebut. Istilah-istilah itu adalah:
1.      Etika
2.      Moral
3.      Kesusilaan
Ukuran baik dan buruk
  1. Adat kebiasaan
  2. Kebahagiaan
  3. Intuisi
  4. Evolusi
ada dua jenis akhlak dalam Islam, yaitu:
  1. Akhlakul karimah (terpuji) adalah akhlak yang baik dan benar menurut syari’at Islam
  2. Akhlaqul Madzmumah (akhlak tercela) adalah akhlak yang tidak baik dan buruk menurut syari’at Islam


DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Yatimin. Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta : Sinar Grafika Offest, 2007.
Al-Asfahani, Al-Rhaqib. Mu’jam Mufrodat Al-fadz al-Qur’an, Beirut : Dr. Al-Firk, tth.
Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta : Raja Grapindo Persada, 1992.  
Masy’ari, Anwar. Akhlak al-Qur’an, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1990.
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Semarang : Kencana, 2010.


[1] Anwar Masy’ari, Akhlak al-Qur’an, (surabaya : PT. Bina Ilmu, 1990), hlm 1-4.
[2] Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta : Raja Grapindo Persada, 1992), hlm. 6-10.
[3] Ibid., hlm. 28-35.  
[4] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta : Sinar Grafika Offest, 2007). Hlm. 12-16.
[5] Ibid., hlm. 4-5.
[6] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Semarang : Kencana, 2010).
[7] Al-Rhaqib Al-Asfahani, Mu’jam Mufrodat Al-fadz al-Qur’an, (Beirut : Dr. Al-Firk, tth.) hlm. 117. 

Hadis Tentang Kebersihan








By: nambeen

Do you like this story?
Hadis Tentang Kebersihan

1.    Membaca Hadits Tentang Kebersihan.
Agar kemampuan membaca siswa dapat meningkat dan lebih merata dalam satu kelas, maka dalam kegiatan membaca hadits ini dilakukan dengan metode tutor sebaya dengan tata cara sebagai berikut :
Hadits 1
Artinya : “Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah saw. : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)”

Hadits 2



 Artinya : “Diriwayatkan dari Malik Al Asy’ari dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : Kebersihan adalah sebagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi mizan (timbangan), dan bacaan subhanallahi walhamdulillah memenuhi kolong langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya dan shadaqah adalah pelita, dan sabar adalah sinar, dan Al Quran adalah pedoman bagimu.”(HR. Muslim)”

Hadits 3

 Artinya : “Diriwayatkan Abu Hurairah r.a. dia berkata : Rasulullah saw bersabda : Jika aku tidak menjadikan berat umatku, maka sungguh aku perintahkan bersiwak (menggosok gigi) setiap hendak shalat”. (HR Bukhari)

1.      Mengartikan Hadis tentang kebersihan

Hadits 1


Hadits 2

Hadits 3

2.      Memahami Isi/Kandungan hadits tentang kebersihan

Kebersihan membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Sebaliknya, kotor dan jorok akan membawa banyak akibat buruk dalam kehidupan. Orang yang dapat menjaga kebersihan badan, pakaian, dan tempat (lingkungannya) akan dapat merasakan hidup nyaman. Sebaliknya, kalau orang menganggap remeh masalah kebersihan, maka akan merasa terganggu baik oleh penyakit maupun akibat buruk lain seperti polusi udara, pencemaran air dan banjir. Bagaimana arahan dari ajaran Islam tentang masalah kebersihan ? Rasulullah saw melalui berbagai haditsnya mengajarkan agar umat Islam menjadi pelopor dalam hal menjaga kebersihan. Baik kebersihan badan, pakaian, maupun lingkungan. Tiga hadis di atas merupakan sebagian dari hadis-hadis Rasulullah saw yang menyoroti masalah kebersihan. Berikut ini merupakan kandungan hadis-hadis Rasulullah saw tersebut :

Hadits 1 :

1.      Kebersihan, kesucian, dan keindahan merupakan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Jika kita melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT, tentu mendapatkan nilai di hadapan-Nya, yakni berpahala. Dengan kata lain, Kotor, jorok, sampah berserakan, lingkungan yang semrawut dan tidak indah itu tidak disukai oleh Allah SWT. Sebagai hamba yang taat, tentu kita terdorong untuk melakukan hal-hal yang disukai oleh Allah SWT.

2.      Untuk mewujudkan kebersihan dan keindahan tersebut dapat dimulai dari diri kita sendiri, di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Bentuknya juga sangat bermacam-macam, mulai dari membersihkan diri setiap hari, membersihkan kelas, menata ruang kelas sehingga tampak indah dan nyaman. Bila kita dapat mewujudkan kebersihan dan keindahan, maka kehidupan kita pasti terasa lebih nyaman.

Hadits 2 :

1.      Dalam hadis yang kedua dinyatakan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Maksudnya adalah, keimanan seseorang akanmenjadi lengkap kalau dia dapat menjaga kebersihan. Dengan kata lain, orang yang tidak dapat menjaga kebersihan berarti keimanannya masih belum sempurna. Secara tidak langsung hadis ini menandaskan bahwa kebersihan bagi umat Islam merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diterapkan.

2.      Dalam hadis mengenai kebersihan ini juga dirangkai dengan pernyataan Rasulullah sebagai berikut :

ü  Kebersihan sebagian dari iman

ü  Berzikir dengan membaca “Alhamdulillah” itu memenuhi mizan (timbangan) amal baik kelak di hari kiamat.

ü  Berzikit “Subhanallah walhamdulillah” pahalanya memenuhi kolong langit dan bumi.

ü  Shalat itu cahaya bagi umat Islam

ü  Shadaqah itu pelita bagi umat Islam

ü  Sabar itu sinar bagi umat Islam

ü  Dan Al Quran merupakan pedoman hidup umat Islam.

ü  Rangkaian hadits semacam ini secara tidak langsung juga sebagai isyarat bahwa menjaga kebersihan adalah sangat penting dan utama sebagaimana keutamaan dari zikir, shalat, shadaqah, dan sabar.

Hadits 3 :

1.      Dalam hadis yang ketiga ini Rasulullah saw sebenarnya ingin mewajibkan umat Islam untuk selalu menggosok gigi setiap hendak shalat, karena memang menjaga kebersihan gigi merupakan hal yang sangat penting. Namun beliau khawatir jangan-jangan hal ini akan memberatkan umat Islam.

2.      2. Kesehatan gigi sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan. Cara untuk menjaga dan memelihara kesehatan gigi adalah dengan menggosoknya. Gigi yang kita miliki mempunyai fungsi yang sangat banyak, diantaranya untuk melumatkan makanan dan menjaga penampilan. Orang yang tidak rajin menggosok gigi akan berakibat giginya tidak sehat. Gigi yang tidak sehat dapat mengakibatkan penyakit gigi dan bau mulut yang tidak sedap. Kedua hal ini tentu tidak kita inginkan. Bagaimana agar tidak terjadi? Tentu dengan rajin menggosok gigi.



4. Menyalin Hadis Tentang Kebersihan

Salinlah Hadis tentang kebersihan pada buku tulis kamu dengan baik dan benar, perhatikan tata cara menyambung huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, serta perhatikan harakatnya. Agar salinan hadis yang kamu tulis benar, maka perhatikan ketentuan-ketentuan berikut :

Tulisan harus sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku ini.

Tata cara menulis Arab adalah dari arah dari kanan ke kiri.

Jangan memutus kata di akhir baris.

Setelah lancar dalam menyalin dengan cara melihat buku ini, cobalah lakukan dengan cara menulis imla’ (salah seorang temanmu membacakan/mendikte, sedangkan kamu menulis). Hal demikian dapat dilakukan secara bergantian.

Jika menemui kesulitan segera bertanya kepada gurumu, agar tidak mengalami kesalahan yang berkelanjutan.